Laman

Kamis, 14 April 2011

HANBOK : PAKAIAN TRADISIONAL KOREA SELATAN

bila berbicara tentang kebudayaan korea, yang muncul di pikiran saya pertama kali adalah HANBOK.
apa itu hanbok?


sama halnya seperti batik di indonesia, hanbok adalah pakaian tradisional korea selatan dan korea utara *bila di korea utara dikenal dengan nama Choson-ot*. Istilah Hanbok itu berasal dari kata han dan bok. Han adalah sebutan untuk orang Korea: orang Han, sedangkan bok adalah pakaian. Jadi, saat kita menyebut Hanbok sebenarnya kita menyebut "pakaian orang Han".
Hanbok yang kita kenal itu adalah pakaian tradisional masyarakat Korea pada Era Dinasti Jeoseon (1392-1910 M). Pada masa itulah paham Konfusianisme diterapkan secara legal di Korea. Saat itu, terjadi pembedaan pakaian yang dikenakan masyarakat Korea. Golongan Yangban atau golongan Atas mengenakan hanbok berwarna-warni dengan hiasan bordir dan sulaman yang indah dan bahan yang terbuat dari sutra. Golongan masyarakat umum atau rakyat biasa mengenakan hanbok sederhana terbuat dari bahan kain katun dengan pembatasan warna, yakni hanya warna putih, pink muda, hijau muda, dan abu-abu.
  hanbok dipakai secara formal ataupun semi formal dalam perayaan atau festival tradisional, misal tahun baru imlek ataupun perayaan chuseok.

Hanbok untuk Wanita dan pria











 
























bagian2 dalam Jeogori:













keterangan bagian bagian hanbok :
  1. Jeogori: ialah bagian atas dari hanbok ( baju ).Untuk hanbok laki-laki ukurannya lebih besar dan simple, sedangkan untuk wanita agak pendek dan ditandai garis lengkung  dan dekorasi yang lembut. 
  2. Deong Jong : yaitu krah yang berwarna yang berwarna putih . 
  3. Otgoreum (Cloth Strings):  adalah pita yang dipakai pada baju hanbok untuk wanita, merupakan Tali yang mengikat Jeogori, fungsinya seperti kancing di Era Modern saat ini. Tali ini menjuntai di atas Jeogori hingga ke atas rok (chima). Dapat pula menjadi hiasan hanbok  
  4. Baerae : Jeogori dengan bentuk lengan pendek atau disebut juga magoja 
  5. Sokbaji : Dalaman chima dengan bentuk seperti celana. 
  6. Sokchima : Dalaman chima dengan bentuk seperti rok. 
  7. Beoseon : Kaos Kaki
  8. Chima : adalah rok pada bagian hanbok. Ada berbagai macam jenis chima, ada yang lapisan tunggal dan ada juga yang double.
  9. Pattern:  susunan gambar atau garis  dan juga perpaduan warna. 
  10. Gat : Topi pria Korea
  11. Durumagi : Pakaian terluar yang dipakai pada waktu-waktu tertentu, dipakai setelah Sokgui. 
  12. Kkotsin : Sebutan untuk sepatu yang terbuat dari sutra

Masih banyak lagi istilah bagian pada hanbok, misalnya baerae ( pada lengan ), kket dong ( lengan ) dan lain sebagainya.
Untuk hanbok pria ada ” baji ” yaitu celana untuk hanbok. biasanya bentuknya longgar .

CARA MEMAKAI OTGEREUM

otgori


1. Ada dua sisi yang kita anggap A ( kiri )  dan B ( kanan ) . Letakkan sisi A di atas sisi B.
2. Sisi A putar dan tarik ke atas.
3. Dengan panjang kira-kira 10 cm lipat sisi B
4. Kembali sisi A diputar ( di talikan ) lagi.
5. Tarik dan rapikan.
6. Atur keserasian panjang antara kedua sisi tersebut.

Tentang Penduduk Korea Selatan

POPULASI
Korea memiliki jumlah populasi penduduk sebanyak 48,422,644 (data tahun 2005). Kepadatan penduduknya adalah sekitar 493 jiwa per kilometer persegi, merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Mayoritas populasi penduduk korea tinggal di bagian selatan dan timur.

Populasi penduduk korea terus menurun tiap tahunnya dari angka pertambahan penduduk 3% lebih pada tahun 1950 menjadi 0.38% pada tahun 2005. Urbanisasi di Korea meningkat pesat sejak tahun 1960, migrasi dari desa ke daerah perkotaan menjadikan sekitar 80% populasi penduduk Korea saat ini digolongkan sebagai penduduk urban.

Pemisahan semenanjung korea, pada tahun 1948, membuat lebih dari 4 juta orang dari Korea Utara melintas perbatasan menuju Korea Selatan. Peningkatan populasi ini selanjutnya diimbangin dengan emigrasi penduduk Korea, terutama ke Jepang atau Amerika Serikat dalam kurun waktu 40 tahun. Namun sejalan dengan perkembangan ekonomi dan kemajuan iklim politik di Korea Selatan pada permulaan dan pertengahan tahun 1990-an menyebabkan laju emigrasi penduduk Korea menurun, penurunan ini terutama terjadi pada akhir tahun 1980-an. Banyak penduduk Korea yang sudah beremigrasi memutuskan untuk kembali ke Korea Selatan.

SUKU
Korea Selatan seperti halnya Korea Utara merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki etnis penduduk yang homogen. Hampir seluruh penduduknya merupakan bangsa etnis Korea. Penduduk Korea adalah keturunan bangsa Neolithic yang bermigrasi ke semenanjung Korea dari timur laut kepulauan Asia, termasuk daerah Siberia sekitar tahun 5.000 sebelum masehi. Pendatang baru ini menggantikan budaya Paleolithic yang telah terlebih dahulu masuk ke Korea selama sekitar 40.000 tahun.

Masyarakat keturunan Cina merupakan kelompok minoritas di Korea. Populasi penduduk Korea juga terdiri dari para pendatang dari negara-negara asing, meliputi para pekerja dan pengusaha dari wilayah selatan dan tenggara Asia, diplomat asing dan masyarakat professional dari berbagai negara di dunia.

BAHASA
Bahasa nasional Korea adalah bahasa Korea, jenis bahasa yang yang tidak dapat dikategorikan ke dalam kelompok bahasa apapun, walaupun seringkali dimasukkan ke dalam keluarga bahasa Altic. Tata bahasa Korea hampir sama seperti bahasa Jepang. Karena sejarah panjang hubungan dengan Cina, banyak perbendaharaan katanya memiliki kosakata bahasa Cina. Bahasa Korea ditulis dalam huruf Hanggul, yang pertama kali diperkenalkan tahun 1446 pada masa pemerintahan Raja Sejong dari dinasti Choson (1392-1910).

Bahasa Korea tidak memiliki huruf sendiri sampai diciptakannya Hanggul. Sebelumnya. Bahasa Korea ditulis dalam huruf Cina yang dimodifikasi. Huruf gambar Cina atau karakter, merepresentasikan kata atau arti daripada sebuah pengucapan. Karena dikembangkan dari bahasa yang berbeda, huruf ini tidak mencerminkan bunyi atau tata bahasa Korea. Dengan alasan tersebutlah, raja Sejong membuat sebuah komisi yang bertugas untuk menciptakan Hanggul, tulisan yang terdiri dari simbol-simbol bunyi yang merepresentasikan secara akurat pengucapan bahasa Korea.

Walaupun agak rumit, Hanggul mudah dipelajari, seperti keinginan raja Sejong untuk memperbanyak jumlah tulisan Korea dalam sekolah-sekolah di Korea. Huruf Cina masih merupakan tulisan yang digemari dan bergengsi pada pendidikan kelas atas sampai abad ke-20, ketika Hanggul diperkenalkan dan digunakan secara luas sebagai simbol dan identitas bangsa Korea. Dewasa ini, tulisan Korea seringkali menggabungkan tulisan Hanggul dan beberapa karakter Cina.

AGAMA
Agama Budha dan Kristen merupakan dua agama terbesar di Korea Selatan. Namun demikian, banyak warga Korea Selatan yang tidak memiliki agama dan pada prakteknya lebih sering menggabungkan system kepercayaan di dalam kehidupan mereka. Menyebabkan, perbedaan agama yang satu dengan yang lainnya menjadi samar.

Confusianisme, lebih merupakan filosofi moral ketimbang sebuah agama, dalam berbagai hal lebih terkemuka dalam kebudayaan Korea daripada berbagai agama yang ada. Confusianisme diperkenalkan pertama kali di Cina 2000 tahun yang lalu. Banyak ajarannya menggabungkan kehidupan sosial dan moral bangsa Korea. Confusianisme memberikan bukti dalam prakteknya, seperti memberikan prioritas utama dalam pendidikan dan menghormati yang lebih tua, dan juga upacara adat untuk mengenang nenek moyang.

Ajaran Mahayana dari agama Budha diperkenalkan dari India melalui Cina pada abad ke-4. Kerajaan-kerajaan di Korea menjadikan agama Budha sebagai agama resmi pada permulaan tahun 500 sampai 1392, ketika dinasti Choson mulai memperkenalkan Neo-Confusianisme sebagai ideology bangsa dan mulai mengucilkan agama Budha. Saat penganut Budha menyebar di berbagai daerah di Korea, dan banyak terdapat biara dan candi Budha. Penganut Budha Son, yang menitikberatkan pada meditasi, berasal dari Cina yang dikenal sebagai penganut Budha Chan, dan pada akhirnya berpindah dari Korea ke Jepang, yang lebih dikenal sebagai penganut Budha Zen.

Taoism lebih dikenal To-gyo di Korea, merupakan filosofi mistis yang juga diperkenalkan dari cina bersamaan dengan ajaran Budha. Banyak prinsipnya sama dengan kebudayaan Korea seperti menitikberatkan keselarasan dengan alam, kesederhanaan, kemurnian, dan keabadian.

Korea secara resmi tertutup untuk kalangan misionaris sampai tahun 1882, walaupun pengetahuan akan agama Kristen sudah dikenal sebelumnya. Keanggotaan di dalam persatuan Kristen sangat berkembang sejak tahun 1950-an, dan saat ini Korea adalah negara dengan penganut Kristen terbesar di asia timur. Sekitar tiga perempat penganut Kristen Korea adalah protestan, sementara sisanya adalah penganut Katolik Roma.

Ratusan agama baru dapat ditemukan di Korea. Hampir semua agama baru ini adalah sinkretik, yang berarti menggabungkan berbagai sistem kepercayaan yang berbeda. Salah satu yang terkenal adalah gereja persatuan, didirikan tahun 1954 oleh Sun Myung Moon. Salah satu agama baru yang tertua adalah Ch’ŏndogyo (mengajarkan jalan kesenangan), didirikan tahun 1860. agama ini menggabungkan elemen ajaran Confusianisme, Budha, Kristen, Daoisisme dan Shamanisme

Shamanisme Korea berakar pada kebudayaan kuno wilayah timur laut Asia. Kepercayaan ini merupakan sistem kepercayaan masyarakat kuno yang merupakan hal penting dalam warisan kebudayaan Korea. Didasari oleh kepercayaan animisme, Shamanisme menitikberatkan pada ritual atau upacara ramalan oleh penganut kepercayaan (Mudang), yang kebanyakan adalah wanita. Walaupun Shamanisme bukan merupakan agama, banyak masyarakat Korea yang berkonsultasi dengan penganut Shamanisme ketika merasakan kesedihan atau kesusahan. Selain itu, aturan Shamanisme yang mempercayai bahwa setiap objek di alam memiliki arwah dan jiwa masih dipercaya luas di Korea selatan.

sumber : KBRI SEOUL

Pemerintahan Korea Selatan

Korea Selatan diperintah di bawah 6 konstitusi, diadopsi pada tahun 1948, 1960, 1962, 1972, 1980 dan 1988. Setiap konstitusi mengartikan Republik Korea Selatan yang baru. Jadi, pemerintahan di bawah konstitusi 1988 dikenal sebagai Republik ke-6. Konstitusi yang paling baru disahkan oleh referendum Oktober 1987 dan berlaku pada tanggal Februari 1988

A. Eksekutif

Kekuasaan eksekutif dipegang oleh seorang presiden yang dipilih langsung melalui pemilihan yang tidak dapat diperpanjang selama 5 tahun. Presiden bertanggung jawab dalam menentukan semua kebijakan penting pemerintahan. Presiden melakukan fungsi eksekutif melalui kabinet yang dinamakan Dewan Negara. Perdana menteri adalah pembantu eksekutif utama presiden. Presiden menunjuk perdana menteri dengan persetujuan legislatif atau Majelis Nasional. Presiden mengepalai Dewan Negara dan menunjuk anggotanya dengan rekomendasi dari perdana menteri. Dewan ini harus terdiri dari minimal 15 dan tidak lebih dari 30 menteri pemerintahan, termasuk perdana menteri. Perdana menteri dan anggota Dewan Negara mempunyai hak untuk membimbing menteri administratif, membuat kebijakan utama nasional dan menyuarakan pendapat di rapat Majelis Nasional.

Konstitusi 1988 menentukan batasan pada kekuasaan presiden. Pada waktu krisis nasional, presiden dimungkinkan mengambil tindakan darurat seperti kebijakan perang, tetapi tindakan tertentu harus disetujui oleh legislatif. Presiden tidak dimungkinkan membubarkan legislatif atau mencabut hukum dasar.

B. Legislatif

Kekuasaan legislatif dipegang oleh dewan tunggal yaitu Majelis Nasional. Anggota majelis dipilih melalui sistem dual-ballot dimana pemilih memberikan dua pilihan: satu untuk calon khusus dan satu untuk partai dibawah perwakilan proporsional. SIstem ini diperkenalkan dalam pemilihan legislatif 2004 untuk refleksi keakuratan dari pilihan partai. Di bawah perwakilan proporsional, anggota dipilih dari daftar partai yang proporsional terhadap seluruh pilihan. Semua anggota menjabat selama 4 tahun.

C. Pengadilan

Pengadilan tertinggi di Korea Selatan adalah Supreme Court (Pengadilan Agung), yang terdiri dari 14 Jaksa (termasuk kepala jaksa). Di bawah Pengadilan Agung adalah 5 pengadilan tinggi yang berlokasi di Kwangju, Busan, Daegu, Daejeon dan Seoul. Pengadilan wilayah, terletak di kota-kota besar, mempunyai hak hukum atas kasus sipil dan kriminal pertama. Korea Selatan juga mempunyai Pengadilan konstitusi dimana mengkaji hukum konstitusi (bila diminta oleh pengadilan), hal tentang impeachment dan pembubaran partai politik.

D. Pemerintah Daerah

Untuk tujuan administrasi daerah, Korea Selatan dibagi ke dalam 9 propinsi dan 7 kota dengan status setara propinsi. Kesembilan propinsi tersebut adalah Gyeonggi, Gangwon, Chungcheong Utara dan Selatan, Gyeongsang Utara dan Selatan Jeolla Utara dan Selatan serta Jeju. Ketujuh kota tersebut adalah Incheon, Kwangju, Busan, Daegu, Daejeon, Seoul dan Ulsan. Gubernur propinsi dan walikota dipilih oleh penduduk setiap 4 tahun sekali.

E. Partai Politik

Partai politik utama di Korea Selatan adalah Partai Uri, Partai Nasional Agung, Partai Buruh Demokrasi dan Partai Demokrasi Milenium. Di akhir 2003, Partai Demokrasi Milenium terpecah dan membentuk Partai Uri Liberal. Partai ini memperoleh mayoritas yang kecil di pemilihan legislatif April 2004. Partai Nasional Agung yang konservatif dan Partai Demokrasi Milenium yang moderat membentuk oposisi politik. Sayap kiri Partai Buruh Demokrasi yang bersekutu dengan persatuan buruh mewakili kepentingan tenaga kerja.

F. Pertahanan

Presiden adalah komandan angkatan bersenjata. Di tahun 2003 kekuatan total militer yang aktif adalah 687.700 yang terdiri dari angkatan darat, 560 ribu angkatan laut 63 ribu dan angkatan udara 64.700. Kekuatan total cadangan sekitar 4.5 juta. Kira-kira 37 ribu tentara Amerika juga berpangkalan di negara ini.

sumber : KBRI SEOUL

Musik Tradisional Korea

Musik Korea adalah istilah yang diberikan untuk jenis musik tradisional yang dihasilkan oleh rakyat Korea, baik di Korea Utara maupun Selatan. Di Korea Selatan istilahnya adalah han-guk jeontong eum-ak (한국 전통 음악;韓國傳統音樂) atau guk-ak (국악;國樂), sementara di Korea Utara dinamakan minjok eum-ak (민족 음악;民主音樂).

Musik awal Korea diketahui dimainkan sebagai bagian dari upacara dan penyembahan kepada dewa-dewa. Umumnya, bukti-bukti tersebut berasal dari sumber-sumber tertulis Cina kuno. Karena Semenanjung Korea menjorok dari benua Asia bagian timur laut, rakyat Korea telah melakukan pertukaran yang aktif sejak lama dengan Bangsa Cina, Mongol, Jepang, Siberia dan Asia Tengah yang ikut mempengaruhi kesenian mereka.

Karena Korea telah terbagi lebih dari setengah abad, musik tradisional yang diwariskan antara kedua negara telah menjadi cukup berbeda. Musik Korea Selatan meyakini musik harus melampaui batas politik dan mencapai kemurnian yang tidak menyampaikan pesan propaganda. Musisi Korea Utara pun berpendapat bahwa musik harus melampaui politik namun untuk tujuan yang berbeda. Walaupun memiliki pandangan yang hampir sama mengenai musik, tujuan dan metode yang mereka kembangkan tidak sama.

Di Korea Utara, tidak ada istilah guk-ak (musik tradisional) dan jeon-tong eum-ak juga tak pernah digunakan. Jenis-jenis musik tradisional yang dikenal di Korea Selatan seperti jeong-ak (musik istana), pansori (opera tradisional), musik rakyat dan sanjo (permainan musik solo) tidak dikenal di Korea Utara. Jenis musik tradisional yang dipentaskan di Korea Utara hanya minyo atau nyanyian rakyat. Namun, minyo di Korea Utara tidak dinyanyikan dengan gaya tradisional, melainkan dengan gaya modifikasi yang diiringi aransemen permainan alat musik tradisional yang direvisi dan musik barat.

Semua alat musik tradisional kecuali alat musik perkusi telah mengalami rekonstruksi. Semua alat musik disesuaikan dengan skala musik barat, dan skala 7 not dimodifikasi agar mudah untuk dimainkan. Orang Korea Utara menganggap suara “kasar” alat musik tradisional sebagai suara yang “kotor”, sehingga mereka membersihkannya dan membuatnya jelas. Mereka juga memperluas jangkauan alat musik tradisional, sehingga satu jenis alat musik dapat memainkan jenis musik yang berbeda-beda.

Konsep terpenting yang dimiliki oleh musik Korea adalah menghasilkan bentuk “rehat suara” yang sama banyaknya dengan permainan musik itu sendiri. Maksudnya, musik Korea mementingkan jeda-jeda dalam permainan alat musiknya. Hal ini berbeda dibandingkan konsep musik barat yang menerapkan permainan yang terus menerus.

Falsafah permainan musik Korea disebut “lima aliran yin dan yang”. Dua belas not dalam satu oktaf dinamakan 6 yin dan 6 yang, yang dilambangkan oleh 12 buah bulan. Terdapat 5 suara mayor, antara lain gung, sang, gak, chi dan woo yang melambangkan lima buah elemen alam (metal, kayu, air, api dan tanah), lima jenis rasa, lima jenis kebajikan dan lima buah organ tubuh vital manusia.

Rakyat Korea umumnya tidak menyukai musik dengan notasi yang absolut dan pasti. Musik Korea cenderung fleksibel. Dalam setiap permainan alat musik atau menyanyikan lagu tradisional pun selalu terdapat vibrasi yang dalam waktu bersamaan diperpanjang atau disembunyikan.

Melodi musik Korea penuh dengan ornamentasi, terutama sebelum atau sesudah nada suara utama. Setiap permainannya, selalu terdapat pola ritme pengulangan yang berfungsi memberi warna dan rasa musik.

Tempo merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk alur permainan musik Korea. Suara nada yang dimainkan dapat menjadi berbeda jika dimainkan dalam tempo yang bervariasi. Dua jenis musik, musik istana dan musik rakyat memiliki ciri khas masing-masing. Musik istana kaku, terkontrol dan kurang menunjukkan emosi. Dibandingkan dengan musik klasik negara lain, musik klasik (istana) Korea cenderung lambat sehingga tak dapat diukur dengan metronome. Contohnya, salah satu nyanyian gagok berjudul isak-daeyeob yang terdiri dari 45 kata, dinyanyikan dalam tempo waktu 10 menit. Tempo moderato permainan musik Korea mengikuti sistem pernafasan manusia, sementara musik klasik barat mengikuti detak jantung. Tempo musik klasik barat tiga kali lebih cepat dibanding musik Korea yang menerapkan sistem nafas manusia dalam tiap menit. Musik rakyat sebaliknya, bertempo ceria, sederhana, dan penuh dengan emosi dan antusiasme.
 
sumber : wikipedia

HUBUNGAN KERJASAMA INDONESIA DENGAN KOREA

Indonesia dan korea menjalin hubungan kerja sama yang erat di bidang ekonomi, hubungan ini sangat mengesankan karena pada tahun 2005, volume perdagangan kedua negara ini mencapai 13,2 milyar dolar Amerika, meningkat 32% bila dibandingkan dengan volume perdagangan tahun 2004. Saat ini Korea merupakan salah satu mitra perdagangan terbesar bagi Indonesia, bersama dengan Jepang, Amerika Serikat, China dan Singapura. Korea juga menginfestasikan dana sebesar 4,5 milyar dolar Amerika di Indonesia dan jumlah itu mencakup 5% dari infestasi luar negeri Korea. Ini berarti bahwa Indonesia merupakan salah satu mitra penanaman modal terbesar Korea, dan diikuti oleh Cina dan Amerika Serikat.


Hubungan Bilateral yang Saling Mengisi
Untuk menjalin sebuah hubungan internasional antara suatu negara dengan negara yang lain tidaklah mudah, sangat banyak faktor-faktor yang harus dilalui dari masalah dalam negara ataupun dari negara yang akan diajak untuk bekerjasama. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, salah satu faktor yang mempengaruhi dalam hubungan antarnegara di dunia internasional adalah faktor politik dan keamanan, oleh sebab itu kedua faktor ini merupakan salah satu penghambat kelancaran suatu negara untuk bekerjasama dengan negara yang lain. Tetapi, pada saat ini hubungan internasional suatu negara tidak lagi dipengaruhi oleh faktor politik dan keamanan, melainkan pada faktor ekonomi. Faktor ekonomi ini sangat memiliki pengaruh yang besar untuk menjalin hubungan kerja sama yang baik, sehingga tata hubungan politik antarnegara pun memperoleh pengaruh yang kuat terhadap faktor ekonomi. Dengan adanya perubahan titik berat yang seperti ini dalam hubungan internasional, menyebabkan Korea Selatan dan Indonesia juga mengubah tata hubungannya dalam bekerjasama agar bisa mendapatkan tujuan bersama dengan baik. Sebagai contoh dari perubahan itu misalnya, kebijakan Korea Selatan yang utama di wilayah Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya berubah dari upaya untuk mencari kolaborasi politik kepenguatan kerja sama ekonomi, termasuk di dalamnya upaya memperoleh sumberdaya alam, mencari pasar baru bagi produk-produknya, dan mencari kesempatan dalam penanaman investasi. Tanpa diduga secara langsung, upaya-upaya yang bersifat ekonomis itu ternyata juga cenderung memperkuat hubungan bilateral antara Korea Selatan dan Indonesia sendiri, yaitu kerja sama dalam bidang politik dan sosial-budaya.
keterangan:
Hubungan Ekonomi dalam Perspektif Globalisasi
Hubungan bilateral yang saling mengisi sangat berperan penting dalm perspektif globalisasi, dengan cara saling memperhatikan, membantu dan membimbing dari masalah yang dihadapi oleh tiap negara secara individu. Hubungan ini juga dapat dipererat dengan hubungan bilateral melalui organisasi-organisai regional atau internasional seperti ASEAN, ARF, ASEAN +3, APEC, ASEM, Non Blok, PBB, dan lain sebagainya.
Kadang-0kadang hubungan suatu negara dengan negara yang lainnya itu tidak berjalan mulus untuk mencapai tujuannya bersama, tantangan ini biasayan dipengaruhi oleh keadaan ekonomi, politik dan pemerintahan masing-masing negara, sehingga bisa menghambat hubungan kerjasamanya dengan negara lain dalam hal seperti ini, indonesia dan korea pernah mengalami dalam hal proses hubungan kerjasamanya, hambatannya adalah Korea dan Indonesia mengalami krisis ekonomi dan reformasi dibidang politik dan pemerinthan pada saat yang hampir bersamaan, sehingga beralihnya kepemimpinan politik kedua negara ketangan sipil membuat kedua Pemerintah sibuk untuk menatra kembali kehidupan poliutik dan ekonomi negaranya masing-masing, dan menyebabkan ketidakjelasan pada sikap masing-masing pemimpin kedua negara terhadap satu sam lainsehingga hubungan kedua negara makin mengalami penurunan meskipun masih tetap berada diatas rata-rata.
Dan hubungan inipun akhirnya dapat menyesuaikan diri lagi dalam hubungannya dalam perspektif globalisasi melalui perbaikan kerjasama secara daur ulang melalui siklus tujuan bersama. Dan menjadi lancarnya hubungan kedua negara ini, secara tidak langsung sangat menguntungkan bagi negara-negara Asia Timur lainnya.

sumber : Seputar Indonesia